Header Ads

Semua Tentang Batak - Batak Network

Mereka yang Terlupakan di Siantar

BECAK SIANTAR | Mereka yang Terlupakan di Siantar - Nama Indra Gunawan bagi masyarakat Siantar mungkin sama sekali tak dikenal. Padahal, jika kita mengetahui prestasinya, siapapun yang merasa sebagai Anak Siantar, pasti bangga kepadanya.

Indra Gunawan lahir di Siantar 21 Maret 1988. Tahun 2009 dia meraih medali emas cabang renang di SEA Games Laos. Tahun 2011, dia kembali mendulang dua medali emas dalam ajang yang sama, SEA Games Palembang.

Masa kecil Indra dihabiskan berlatih renang di Kolam Renang Detis Sari Indah atau yang lebih dikenal sebagai Kolam Renang Pematang. Dari kolam renang ini, Indra melangkah menuju prestasi dunia. Sayangnya, di tanah kelahirannya sendiri dia tak dikenal. Perhatian masyarakat dan pemerintah kota sangat minim kepadanya.

Namun Indra tak sendiri. Masih banyak putra-putri terbaik Siantar yang sudah mengharumkan nama Siantar ke seluruh dunia, juga terlupakan. Nama Piala Sudirman, piala beregu bulutangkis dunia, diambil dari nama Drs. Dick Sudirman. Dia lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, 29 April 1922, meninggal 10 Juni 1986 pada umur 64 tahun. Sudirman adalah seorang pemain dan tokoh bulu tangkis Indonesia.

Sudirman dikenal sebagai salah satu pendiri PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia). Dia menjabat sebagai Ketua Umum PB PBSI selama 22 tahun (1952-1963 dan 1967-1981). Dia juga pernah menjabat sebagai wakil presiden Federasi Bulutangkis Internasional (IBF) pada 1975.

Namun lagi-lagi, tak banyak yang tahu mengenai Sudirman ini. Jejak kehidupannya di Siantar pun sepertinya hilang tak berbekas. Tak ada yang tahu dimana dia pernah tinggal dan tak ada yang peduli untuk mencoba menelusuri ini.

Bagi penggemar film kungfu tahun 1970-an sampai 1980-an, tentu tak asing dengan nama Lo Lieh. Dia seangkatan dengan beberapa aktor laga seperti Fu Shen, Chen Kuan Tai, David Chiang, atau Ti Lung. Namun siapa sangka, Lo Lieh ternyata anak Siantar. Dia lahir di Pematangsiantar 29 Juni 1939. Lo Lieh memulai kiprahnya di film laga tahun 1962 setelah dia belajar di sekolah akting di Hongkong.

Wisata Sejarah
Nama yang tentu paling fenomenal di kota ini adalah Adam Malik, putra Siantar yang pernah menjadi wakil presiden Indonesia. Segudang prestasi pernah diukir oleh anak pasangan Abdul Malik Batubara dan Salamah Lubis ini. Dia pernah menjabat duta besar, menteri luar negeri, dan bahkan pernah menjadi ketua sidang dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke -26.

Namun sepertinya tak ada yang bisa dilakukan kota ini untuk menghargai prestasi Adam Malik tersebut. Benar bahwa nama Adam Malik sudah terpatri menjadi nama jalan dan nama lapangan (dulu Lapangan Simarito) di Siantar. Namun sepertinya itu tak cukup karena jika ditelusuri lebih jauh, jejak kesejarahan Adam Malik di Siantar hampir tak ada. Rumah tempat Adam Malik lahir, tempat dia dibesarkan, dan lingkungan dimana dia bermain, tak ada yang tahu dimana itu berada. Dari beberapa periode Wali kota Siantar, minat untuk menelusuri ini hampir tak ada. Akhirnya, jejak kesejarahan Adam Malik pun hilang begitu saja. Padahal, belajar sejarah yang paling efektif dan menyenangkan adalah menelusuri jejak sejarah itu sendiri. Seandainya rumah tempat Adam Malik lahir dan dibesarkan masih ada, tentu dapat dijadikan museum dan anak sekolah dapat belajar sejarah tentang Adam Malik dari museum ini.

Dan inilah fakta yang ada di Siantar ini. Mereka yang pernah mengharumkan nama Siantar sampai ke pelosok dunia, hampir semuanya terlupakan. Padahal, dengan mencoba menelusuri jejak sejarah para tokoh Siantar ini, banyak manfaat yang bisa diperoleh. Rumah tempat mereka lahir dapat dijadikan museum dan kemudian mengumpulkan segala perlengkapan dan pernak-pernik asli ketika mereka hidup di kota ini, seperti tempat tidur, kursi, meja, dan barang lainnya. Museum ini dapat menjadi wisata sejarah bagi masyarakat Kota Siantar dan juga bagi pendatang.

Bandingkan misalnya dengan presiden pertama Indonesia, Soekarno. Di semua rumah di tempat mana dia pernah dibuang Belanda, saat ini dijadikan museum dan ramai dikunjungi wisatawan. Lihatlah di Digul, Pulau Bangka, Bengkulu, dan lainnya bagaimana pemerintah daerah setempat merawat dan menjaga rumah tempat pembuangan Soekarno, dijadikan museum dan ramai dikunjungi wisatawan.

Nama-nama tokoh nasional dan dunia dari Kota Siantar ini juga layak diikutkan sebagai bagian dari promosi wisata dan investasi dalam booklet, brosur, atau buku tentang Siantar. Nama mereka layak jual untuk mempromosikan Siantar. Siapa tahu, ada investor dari Hongkong yang mau menanamkan investasinya di Siantar setelah tahu bahwa idolanya Lo Lieh, lahir dan besar di Siantar.

Peluang Investasi
Mereka yang pernah mengharumkan nama Kota Siantar benar-benar terlupakan. Jika pemerintah kota, baik itu wali kota, DPRD, dan para kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) mau sedikit saja membuka mata terhadap Anak Siantar yang ada di perantauan, saya yakin tak sulit untuk membangun kota ini.

Fetra Tumanggor, Wartawan - Foto Istimewa
Satu contoh, lihatlah grup Anak Siantar di Facebook yang mempunyai anggota lebih dari 7000 orang. Sebagian besar anggota grup ini adalah anak Siantar yang berada di perantauan, baik itu di Jakarta, Medan, Surabaya, Bandung, Bali, bahkan ada di Amerika Serikat. Dari status dan komentar di grup ini, ada kerinduan mereka untuk melihat kota kelahiran mereka ini jauh lebih baik dan maju. Pemerintah Kota Siantar harus menangkap peluang ini dan mengajak mereka bersama-sama untuk membuat Siantar lebih baik. Beragam cara bisa dilakukan karena anak Siantar yang ada di perantauan ini ahli di banyak bidang. Ada yang jago desain, ahli ekonomi, pertanian, perkebunan, otomotif, atau mungkin mengajak mereka menanamkan investasinya di Siantar.

Jika banyak tokoh Siantar terlupakan selama ini, mari jangan melakukan kesalahan yang sama saat ini. Dengan beragam cara, Pemko Siantar harus mampu mengajak Anak Siantar dimanapun berada untuk bersama-sama memajukan Siantar. Jika tak bisa melalui dana dan investasi, penghargaan terhadap pemikiran mereka juga sangat bernilai. Bagi anak Siantar di manapun berada, niat baiknya tentu hanya satu, ingin Siantar tercinta ini bisa baik dan maju.

Seperti kata Bung Karno, jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Atau jangan seperti yang terjadi sampai saat ini, setiap Senin saat upacara bendera atau saat 17 Agustus, lagu-lagu karangan Cornel Simanjuntak seperti Tanah Tumpah Darah, Maju Tak Gentar, Pada Pahlawan, Teguh Kukuh Berlapis Baja, atau Indonesia Tetap Merdeka, dinyanyikan anak-anak sekolah di Siantar dengan gegap gempita, bahkan kadang sampai suara serak. Tapi mereka tak pernah tahu kalau Cornel Simanjuntak adalah anak Siantar. [Becak Siantar]

Mereka yang Terlupakan di Siantar adalah catatan dari Fetra Tumanggor, Wartawan - yang telah dipublikasikan di Group Facebook Anak Siantar.

loading...

2 comments :

  1. Siantar ini kota yang banyak meninggalkan sejarah.

    Dulu, waktu saya kelas 4 SD jalan-jalan ke Kota ini dan melihat Siantar indah tertata rapi. Yang paling ingat, waktu dibawa main sama sanak saudara Senin pagi, melihat pemandangan dan segerombolan anak sekolah berduyun-duyun jalan kaki sampai ketujuan mereka. Ironis, Kota ini lambat laun hancur oleh kaum muda, banyak yang poya-poya, yang dulunya keras belajar menjadi malas belajar. Berduyun-duyun bolos di Pagi hari. Saran: Kenalkan kepada setiap sekolah sejarah yang terlupakan ini, kisah-kisah tekat belajar dan perjuangan yang ada di Siantar. Kepada Pemerintah, semoga Pemerintah takut akan KORUPSI!
    Jalan Siantar kini jalan tempel, cat bagunannya kini melapuk, perpustakaannya kok sunyi???

    Walaupun bukan kelahiran Siantar, saya bangga bisa mengenal Siantar. Dan tidak pantas ada anak Siantar mengaku anak Siantar tetapi tidak tahu menahu sejarah di Kotanya.
    Thanks bang Ringo, nice posting :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahah.... Trims komentarnya kawan... Salam

      Delete

Berkomentarlah Sesuai Topik. Jangan pasang link atau link tersembunyi di dalam komentar, karena akan kami hapus (pilih Name/URL bila ingin menuliskan URL / Link anda). Kami tidak betanggung jawab Isi komentar anda, oleh karena itu, berlakulah sopan.

Powered by Blogger.