Header Ads

Semua Tentang Batak - Batak Network

Asal-Usul "NGASAL" Kata “HURJEE” [Cerita Fiksi Humor]

BECAK SIANTAR - Kata “Hurje” tentunya sudah tidak asing lagi di telinga Anak Siantar. Kata ini biasanya di artikan sebagai binatang bebal dan kotor bernama “BABI” (Hati-hati pelafalannya, bukan BABY, bukan BABE".

Asal-Usul "NGASAL" Kata “HURJEE” [Sebuah Cerita Fiksi Humor]
Net
Ilustrasi: Babi

Namun tahukah anda apa arti dan asal mula kata tersebut ?

Mau tahu? Atau mau tahu banget ?

(Sebelumnya mohon maaf bagi yang tak berkenan)

Begini ceritanya

...jreng... jreng... jejenggggg… (diiringi ilustrasi musik)

Once upon a time, pada jaman dahulu kala, tersebutlah sebuah desa entah berantah di Toba sana. Hiduplah sebuah keluarga petani yang sangat miskin. Sebut saja namanya “Si Joltub” (Sijolo2 tubu) bermarga “xxx” (maaf, untuk menghindari fitnah dan pendzoliman terhadap marga tertentu, maka marga disensor ya) dengan istrinya yang saaangaaat cuantik di jamannya, namanya adalah “MadeSu” (mungkin istrinya dari Bali).

Suami-istri tersebut memiliki seorang anak laki-laki namanya si Mokkus. Hidup mereka bercocok tanam atau bertani seadanya. Tanah merekapun hanya beberapa "rante" saja (1 rante=20m x 20m, jangan bayangin rante anjing ya)..

Saat Paceklik tiba, hasil panen tidak dapat lagi diandalkan untuk menopang hidup mereka selama setahun ke depan. Merasa putus asa, Joltub berbicara dengan istrinya MadeSu:

”Ma’e.., anak kita sudah besar.. aku tak ingin melihat dia hidup susah nantinya. Kita harus memiliki cukup uang agar anak kita bisa sekolah ke ‘Luar Nagari’ (Nagari = sebutan wilayah kecamatan di jaman Belanda) untuk masa depannya.”

MadeSu terdiam dan menangis sambil menyahut:
”Pa’e, kita khan gak punya harta, darimana pula kita dapatkan biaya sekolahnya di luar nagari?”

Si Joltub berusaha menenangkan istrinya. Dia mencari cata mengatasi masalah tersebut tanpa solusi dan berkata:

”Begini saja say, kita mintalah sepasang Babi dari bapa mertua di Bali, lalu kita akan pelihara, setelah beranak pinak, akan kita jual ke pokkan (Pokkan = pasar). Uangnya kita tabung untuk biaya si Mokkus nantinya. Aku yakin bapak mertua akan mengerti.” (Red: ”apa kubilang Ces,… betul khan, pasti dari Bali.. hehehe)

Akhirnya JolTup mengirim surat kpd mertuanya di Bali. Mertuanya termasuk orang berpengaruh di Bali, masih berdarah biru, I Made Ketut Bagus Anune namanya.

Singkat kata, singkat cerita, sang mertua pun menyanggupi. Mereka mulai berternak sepasang babi tersebut hingga beranak pinak. Bulan demi bulan terlewati, jumlah babi berlipat ganda. Saking banyaknya, babi-babi tersebut dibiarkan berkeliaran untuk mencari makannya sendiri yaitu ubi-ubian atau sayuran yang tumbuh secara liar di ‘harangan’ atau di jurang2 dekat sungai.

Mokkus yang ditugaskan untuk menjaganya sebagai gembala sapi eeh babi. Setiap sore Mokkus harus sudah mengumpulkan babi ke kandangnya di belakang rumah. Tak jarang si Mokkus kewalahan untuk
mengumpulkannya. Karena babi memang susah di atur.

”Dasar babi kalian!” umpatnya jika kesal. Setiap sore dia selalu teriak sekuat-kuatnya di dalam hutan atau jurang.

“Jenek hamu tu son babiiii... Jeneeekkkk... hamu.... babi!!!” teriaknya.

Babi-babi memang ada yang mendekat tapi ketika si Mokkus berhenti berteriak, babi-babipun berhenti mendekati asal suara itu.

”Hurang jenek dope hamu babiiiiiii!!!!” teriaknya lagi.

Babi2pun mendekat tapi jika suara teriakan itu berhenti, merekapun turut berhenti. Demikian seterusnya.

Kemudian Mokkus mencari akal bagaimana supaya babi2 itu menuruti kata2nya dan dia tidak capek berteriak. Maka lama-lama teriakannyapun dipersingkat:

”Hurang jeneeeek, babiii!!!!! Hurang Jeneeeeek...!!!

Begitu seterusnya sehingga untuk efesiensi tenaga dan suara, dan lambat laun menjadi “Hurang Jeneeeekkkk!!!” Huraaangg Jeneeek!! Hurjeeeekkkkk...Hurjeeeeeee!. Begitulah awal ceritanya, mengapa sampai sekarang, orang-orang di bonapasogit kalau memanggil babinya yang berkeliaran berteriak :”HURJEEEEEEEE”!

Pendek cerita jadilah Hurje yang disingkat dari kata “Hurang Jenek”.

NB : Banyak binatang bisa terlatih dengan kata perintah sederhana yang dilakukan secara berulang-ulang dan terus menerus. Dengan demikian, slowly but sure, secara sistematis perintah tsb tersimpan permanen di dalam otaknya atau sugesti.

Cerita di atas hanyalah khayalan Penulis dan fiktif. Jadi karena hanya imajinasi saja, mohon jangan dijadikan mitos atau hikayat bagi anak cucu anda. Coretan ini murni hanya untuk hiburan semata. Jika ada kesamaan nama atau cerita bukanlah tanggungjawab penulis.

NB: Semalu-malunya anak Babi yang menyadari Bapak-Ibunya ternyata adalah seekor Babi, akan lebih malu melihat manusia berperilaku seperti Babi.

Btw, Babi juga ciptaan Tuhan loh………..”

Salam Dankdut!
Parjalpis, Siantarcity

Sumber: Group Facebookers Anak Siantar
loading...

No comments

Berkomentarlah Sesuai Topik. Jangan pasang link atau link tersembunyi di dalam komentar, karena akan kami hapus (pilih Name/URL bila ingin menuliskan URL / Link anda). Kami tidak betanggung jawab Isi komentar anda, oleh karena itu, berlakulah sopan.

Powered by Blogger.