Header Ads

Semua Tentang Batak - Batak Network

Saat Orang Batak Meneguhkan Jati Diri

BECAKSIANTAR.COM - Saat Orang Batak Meneguhkan Jati Diri. Banyak orang Batak dituding mengidap sindrom inferioritas. Artinya, mereka tak bangga dengan budayanya sendiri, tetapi justru lebih senang menyerap budaya asing. Padahal, budaya dan tradisi Batak menyimpan kearifan lokal dan pengetahuan yang tak kalah luhurnya dengan budaya Barat. Sebab itu, sindrom tersebut harus dikikis agar tak hanyut oleh terpaan budaya instan global.

Tari tor-tor cawan persembahan ratusan anak-anak dari Samosir pada acara pembukaan Festival Danau Toba 2013 di Samosir Minggu (8/9/2013). Adapun kegiatan yang mengangkat sisi budaya, pariwisata dan olahraga tersebut berlanagsung 8-14 September 2013 yang berpusat di Pulau Samosir, Danau Toba, Sumatera Utara.
Kompas.com
Tari tor-tor cawan persembahan ratusan anak-anak dari Samosir pada acara pembukaan Festival Danau Toba 2013 di Samosir Minggu (8/9/2013). Adapun kegiatan yang mengangkat sisi budaya, pariwisata dan olahraga tersebut berlanagsung 8-14 September 2013 yang berpusat di Pulau Samosir, Danau Toba, Sumatera Utara.

Sebanyak 500 siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah atas berbaris rapi. Masing-masing membawa lima cawan. Begitu suara gondang atau gendang bertalu, anak-anak itu langsung menggerakkan tangannya secara gemulai. Mereka pun menari Tortor Cawan.

Mereka tengah berlatih untuk tampil dalam Festival Danau Toba di panggung terbuka Tuk Tuk, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, yang berlangsung sejak Minggu (8/9/2013) hingga Sabtu (14/9/2013). Hampir dua jam berlatih, peluh akhirnya membasahi wajah anak-anak yang terus menari di bawah terik. ”Satu, dua, tiga, tangan diangkat. Bagus!” ujar pemandu tari.

Seusai latihan, mereka berhamburan ke warung untuk membeli makanan dan minuman. Sambil menyantap, anak-anak pun berbagi cerita.

”Saya bisa manortor (menari tortor) karena latihan di sekolah, selain sering lihat di acara pernikahan,” kata Chintya Sidabutar (13), salah seorang penari. Namun, Chintya mengaku tak memahami makna ataupun cerita dari tarian yang diikutinya itu. ”Itu guru kami yang tahu,” katanya.

Sebagian besar generasi muda Batak sesungguhnya memang tak memahami makna Tortor Cawan. Mereka hanya tahu, tari Tortor Cawan ataupun Tortor Somba atau lainnya merupakan tari yang kerap dilakukan saat upacara pernikahan.

Selain tarian, dalam Festival Danau Toba juga akan ditampilkan gondang, lomba solu bolon (perahu tradisional Batak), dan festival ulos. Gondang merupakan tradisi batak yang paling populer di samping tortor dan ulos.

Gondang pun memiliki makna sangat sakral bagi orang Batak. Gondang menjadi sarana menerjemahkan doa-doa umat manusia kepada Tuhan (Debata). Dalam konteks kekinian, tradisi ini masih begitu kuat dalam setiap ritual umat Parmalim, pemeluk Ugamo Malim. Ugamo Malim merupakan agama lama orang-orang Batak sebelum kedatangan agama seperti Kristen dan Islam.

Dalam acara Sipaha Sada, Sipaha Lima, atau Mardebata, gondang selalu muncul. Gondang dimainkan di sela-sela doa yang dipanjatkan ihutan (pemimpin agama) dalam setiap ritual, baik gondang sabangunan (pengkap) maupun gondang hasapi (kecapi).

”Gendang berfungsi sebagai perantara (manusia dengan Tuhan) sekaligus suara hati seseorang,” kata antropolog Universitas Negeri Medan, Ibrahim, dalam Agama Malim di Tanah Batak (2010). Namun, makna seperti itu tentu tidak dipahami generasi seperti Chintya. Mereka hanya paham gerak minus makna.

Dalam hal menghafal aksara Batak, anak-anak muda Batak pun minim. ”Dulu pernah diajarkan di sekolah, tetapi saya tidak pernah bisa menulis Batak. Susah,” tandas Desy Sidabalok, pelajar SMA di Samosir. Memang, budaya instan yang mengglobal lewat seperangkat gadget akhirnya menggerus budaya, termasuk budaya Batak.

Mengagungkan budaya
Direktur Bidang Kebudayaan Festival Danau Toba Rizaldi Siagian membaca bahwa saat ini orang-orang Batak mengidap sindrom inferioritas terhadap budaya sendiri. Padahal, ketika arus globalisasi menguat, unsur lokalitas harus menguat untuk ikut menjadi global. Bukan sebaliknya, surut dan terbawa arus budaya lain.

Setiap tradisi dan budaya lokal sebenarnya memiliki pengetahuan yang sarat kearifan lokal. Gondang, misalnya, mengajarkan cara bermusik dengan nada pentatonis. ”Jika ini dilupakan, generasi Batak kehilangan jejak dan jati dirinya,” kata Rizaldi.

Untuk itulah, agar nilai luhur budaya dan tradisi Batak terus terpelihara, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar Festival Danau Toba. Berbagai seni dan tradisi Batak yang sudah jarang dijumpai kembali diangkat dalam bentuk yang lebih segar. Tentu, ini untuk menegaskan jati diri orang Batak.

”Sejak awal, konsepsi kami adalah untuk mengagungkan budaya Batak dan kami kemas dengan menggabungkan unsur olahraga,” kata Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar.

Kombinasi tradisi dan olahraga itu, misalnya, dikemas dalam bentuk lomba solu bolon dan renang jarak jauh mengelilingi Pulau Samosir sepanjang 117 kilometer. Solu bolon merupakan alat penyeberangan warga sekitar Danau Toba. Namun, kini sudah diganti kapal motor. Hidup berdampingan dengan danau juga menjadikan masyarakat di sekitar Danau Toba sebagai perenang alami.

Kesenian Batak juga dipentaskan dengan kesenian serupa dari luar negeri melalui sebuah eksperimen dalam Festival Drum Dunia, yang menjadi salah satu acara pokok Festival Danau Toba. Misalnya, gondang Batak akan dimainkan bersama pemain gendang atau drum dari Amerika Serikat (AS) dan India. Gondang Batak juga coba digandeng dengan seni sejenis dari Vietnam dan Uganda. Inilah yang membuat pujian musisi asing yang hadir.

”Musik gondang luar biasa indahnya karena banyak variasi nada yang bisa dimunculkan dari sebuah drum,” kata musisi dari Afrika, Abou, yang tertarik belajar.

Pemain klarinet asal Texas, AS, Jonathan Jones, juga mengagumi sarune, alat musik tiup yang dipakai dalam musik gondang. ”Saya harus punya alat musik itu untuk dibawa pulang,” katanya.

Demikian para wisatawan asing yang menyempatkan melihat Festival Dana Toba. Joanna Ecezia, asal Polandia, misalnya, terkejut melihat keragaman motif ulos ataupun keindahan kerajinan kayu warga Batak. ”Semua yang saya lihat adalah wujud budaya yang berasal dari penggabungan budaya animisme dan agama modern,” ujarnya.

Juga Sandra Niessen, warga Belanda, yang aktif melestarikan budaya Batak, yaitu tenun ulos sejak tahun 1979. Tak heran jika ia tampil sebagai pembicara dalam lokakarya bertopik ulos. Ia mengajak masyarakat kembali menghargai ulos sebagai warisan budaya. Peneliti Inggris, William Marsden, juga memuji keagungan budaya Batak lewat The History of Sumatra (1811). Orang asing saja memuji, masa orang Batak-nya tidak? (Mohammad Hilmi Faiq dan Herpin Dewanto)

Sumber: Kompas.com
loading...

No comments

Berkomentarlah Sesuai Topik. Jangan pasang link atau link tersembunyi di dalam komentar, karena akan kami hapus (pilih Name/URL bila ingin menuliskan URL / Link anda). Kami tidak betanggung jawab Isi komentar anda, oleh karena itu, berlakulah sopan.

Powered by Blogger.